Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Advertisements

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Menuju Pelabuhan Terakhir.

Malam ini, di Stasiun Depok Baru, dalam kereta menuju Manggarai, aku sempurna membawa bergiga-giga kenangan.

Setelah siang jumat lalu, kejadian dimeja makan Rumah Quran Laskar UI yang dikelilingi aku, Aufa, Zahro, dan Yuni sambil sesenggukan, semuanya menangis. saat itu langit berubah mendung, hingga malam tak ada lagi gemerlap bintang-gemintang juga rembulan. Tak ada. Hanya awan gelap yang hitam pekat. Segelap hati yang menyimpan amarah, dendam, dan penyesalan.

Malam berikutnya, malam sabtu, aku memutuskan untuk berdamai dengan hatiku sendiri. Tak ada sesal, amarah, dendam, benci. Tak ada. Rasa rasa itu meleleh dalam luasnya samudra penerimaan. Lautan maaf. Tinta tinta kotor nan menijikan itu, tak mampu merubah lautan kasih sayang dan cinta, samudra kedamaian dalam hatiku..

Apa yang aku dapatkan dari sepotong kehidupanku disana? Banyak. Terlalu banyak malah. Dibawah langit Depok, semua rasa bercampur. pahit, manis, asam, asin, juga hambar. Saling bergiantian aneka rasa itu hadir. Sahut menyahut, menyempurnakan jalan jalan kehidupan yang kutempuh.

Karena bagiku, setiap tangis, tawa, marah, dan semua jenis rasa, adalah bagian dari perjalanan besar, rute-rute yang rumit namun indah menuju sebuah pelabuhan.

Aku tak akan mengingat hanya sebagian rasa, semenyakitkan apapun rasa itu. Karena bagiku, setiap macam adalah bagian dari kehidupan. Penuh butiran butiran hikmah yang begitu indah bila difikirkan, menjadi pelajaran, bekal menjalani kehidupan dimasa depan. Jalan jalan berikutnya.

Lalu kemana aku akan pergi setelah 11 bulan menjalani kehidupan dibawah langit Depok? Maka Kemanapun itu, setiap jengkal jalan yang telah aku lewati, akan menunjukkan jalan jalan berikutnya, menuju pelabuhan terakhir. Jalan jalan penuh liku, duri, padang rumput, taman bunga. Apapun yang kutemu dijalan jalan itu, aku kupeluk erat dengan pelukan penerimaan.

Setiap jengkal langkahnya akan aku bungkus dalam wadah bernama kenangan. Tangis maupun tawa, akan kusirami dengan segenap kerelaan. Menjadi kelopak kelopak bunga kenangan yang indah. Yang akan senantiasa mengikutiku, berputar otomatis saat aku dihujani rindu saat aku tengah menempuh jalan jalan berikutnya, hingga aku sampai pada pelabuhan terakhir.

Senin, 22 Juli 2019
Dalam kereta Depok Baru-Manggarai, Bekasi.

Continue reading “Menuju Pelabuhan Terakhir.”

HILANG

#TereLiye #Fanspage #Novelis

Sudah beberapa hari ini FP resmi Tere Liye, penulis produktif kesayangan mendadak hilang. Sebenarnya bukan pertama kali hal ini terjadi, pada th 2016 silam media juga pernah genjar memberitakan pemblokiran terhadap akun Tere Liye yang dilakukan oleh Facebook.

Pada Th 2016 lalu, akun Tere liye diblokir pada jum’at (19/2/16) selama 24 jam karena berkomentar kritis mengenai LGBT. Dan pada senin (22/2/16) akun tereliye kembali diblokir oleh pihak Facebook lebih lama lagi sekitar 3×24 jam, dan mengancam akan menutup permanen akun Tere Liye jika masih membahas mengenai LGBT.

Lalu sekarang ini, sejak beberapa hari lalu,-saya tidak tahu kapan tepatnya-akun Bang Tere kembali hilang. Saya kurang tahu pasti penyebabnya apa, dan saya juga tidak tahu apa post terakhir beliau sebelum akhirnya mehilang. Jujur saya sangat kehilangan.

Saya merasa post Bang Tere begitu menginspirasi dan membuat saya belajar bagaimana agar saya memiliki cara berfikir yang baik, dan senantiasa berfikir positif.

Walaupun saya tahu, Bang Tere sering mengkritisi banyak hal, namun bukankah yang beliau kritisi adalah hal-hal yang menyimpang? Termasuk LGBT, Korupsi, bullying, dsbg dsbg. Mengapa pihak Facebook sangat bermasalah sekali dengan itu semua? Apakah ada “sesuatu” yang mereka bela, yang bersembunyi dibaliknya?

Mungkin Tere Liye tidak bermasalah. Beliau bisa berkarya lewat manapun. Tapi saya, atau mungkin kalian semua juga bermasalah. Bang Tere tidak pernah henti hentinya berjuang menyebarkan informasi yang benar, mengajarkan pemikiran yang positif, dan pemahaman yang baik. Dan kita juga harus ikut berjuang. Suara suara kita perlu lebih vokal lagi untuk membela kebenaran. Saya mengajak kalian semua, menyuarakan pembelaan terhadap Tere Liye.

Tulisan tulisan beliau sangat bermanfaat. Justru kita yang mungkin mem-post yang sama sekali tidak bermanfaat, menghina, menghujat, bully, pamer, dst dst bertebaran di Facebook.

*Saya ingin kalian juga yang mungkin pernah membaca novel beliau, membagikan quotes² beliau, meng-copy paste, memakai tulisannya untuk caption, atau sekedar pernah terinspirasi dengan tulisan beliau, turut menyuarakan pembalaan terhadap Tere Liye.

**Saya menulis ini, saya mengajak kalian untuk membela kebenaran. Mari kita sama sama membela kebenaran. Kalian bisa membuat pembelaan melalui tulisan kalian, membuat vidio, atau boleh membagikan, repost, atau meng-copy paste diakun kalian tulisan ini dengan menyertakan penulis.

–Ismi Khoiriyah